Berantas Buta Informasi!

Information-Explosion-770
[Ilustrasi] Ledakan Informasi

Derasnya arus informasi yang terjadi pada jagad maya dan perkembangan teknologi informasi perlu diimbangi dengan kemampuan literasi informasi. Tak dapat dipungkiri, hampir jutaan informasi berseliwiran di dunia maya setiap harinya. Kemampuan literasi informasi diperlukan agar individu mampu memilah informasi yang dibutuhkan untuk dirinya secara baik dan benar di tengah derasnya ledakan informasi.

Menurut pengertiannya, literasi informasi adalah keterampilan kemampuan mengolah, men-filter, mengevaluasi segala informasi, dan secara efektif menggunakan informasi tersebut untuk isu atau masalah yang dihadapi (Wikipedia, 2015). Sebab tidak selamanya apa yang disampaikan di internet adalah benar, termasuk portal berita online besar sekalipun kadang suka blunder. Tanpa literasi informasi sejak dini, masalah yang timbul dapat mengakibatkan fenomena buta informasi. Seorang yang terkena buta informasi tidak dapat memfilter derasnya informasi sehingga berdampak kepada keyakinan mempercayai informasi yang salah, sebagai sesuatu yang dianggapnya benar. Hal ini diperparah akan disetir oleh kelompok-kelompok berkepentingan yang dapat mengganggu kestabilan nasional.

Perilaku “buta informasi”, misalnya meyakini blog-blog pribadi/opini sebagai “sumber berita” seperti misalnya saja blog-blog berekstensi domain Blogger, WordPress, atau citizen journalism seperti Kompasiana atau lainnya. Padahal, blog pribadi memiliki subjektivitas tinggi yang tergantung selera penulis maka tulisan seorang blogger pun suka-suka yang-nulis. Jika penulis blog mencantumkan dasar-dasar argumentasi yang jelas dengan sumber rujukan yang kredibel, yah tidak masalah. Lain halnya, jika tulisan terkesan tendensius, berat sebelah, terlebih-lebih provokasi, Hal ini diperparah lagi perilaku pembaca “buta informasi” menelan mentah-mentah informasi dan men-share informasi ke jejaring sosial.

Gak hanya blog, portal berita online “abal-abal” pun juga banyak yang bertebaran. Banyaknya portal berita online baru yang bermuculan juga menuntut kita untuk “lebih-lebih melek informasi”. Media berita online ini biasanya memiliki judul berita bombastis, provokatif, dan dengan bumbu-bumbu penyedap lain, apalagi yang sudah nyerempet-nyerempet urusan agama, akan semakin sedap untuk ‘digoreng’. Pembaca “buta informasi” akan menyakini berita tersebut benar, hanya dari judul beritanya saja, terlebih-lebih isi beritanya. Pembaca “buta informasi” tidak sadar bahwa dia telah tergiring opininya sesuai dengan tujuan penulis. Untuk masalah yang ini, kita perlu ekstra ‘tabayyun’.

Lalu bagaimana mengubah perilaku “buta informasi” menjadi “melek informasi”? Salah satunya adalah dengan “literasi informasi”, hal yang paling gampang adalah tidak tergesah-gesah dalam menjustifikasi sesuatu hal hingga menjadi sejelas-jelasnya. Misalnya jika membaca suatu berita yang belum jelas kebenaranya, selalu terus cari sumber-sumber berita lainnya sampai ada klarifikasi ulang dari sumber asal.

Teknologi saja berubah dan berkembang semakin canggih, jelas keterampilan manusia terhadap teknologi juga perlu di-upgrade tidak hanya terkait penggunaan teknologi semata tetapi juga dengan menjadi masyarakat yang melek informasi. Berantas “buta informasi”!!

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Maaf. Proteksi konten.